ISTIHADLOH



Yang dinamakan istihadloh adalah darah yang keluar dari rahim wanita selain pada waktu haid dan waktu nifas. Perempuan yang mengeluarkan darah istihadloh disebut mustahadloh. Perempuan mengalami istihadloh dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor psikologos dan faktor kesehatan. Dalam hal perempuan harus memahami dan bisa membedakan antara darah haid, darah nifas, dan darah istihadloh. Dengan demikian keadaan perempuan ada dua waku yaitu, 1. waktu haid atau nifas, dan 2. waktu suci atau istihadloh. Ketika perempuan haid atau nifas diharamkan melakukan sholat dan puasa, namun pada waktu suci atau istihadloh wajib melakukan sholat dan puasa di bulan Romadlon.
       Untuk lebih memudahkan dalam membedakan darah haid, darah nifas, dan darah istihadloh yaitu :
1.     Batas minimal masa haid 24 jam (sehari semalam).
2.     Batas maksimal masa haid 15 hari 15 malam (360 jam)
3.     Batas minimal masa suci 15 hari 15 malam (360 jam).

Membedakan Darah Haid Dan Darah Istihadloh

HAID DAN PROBLEMATIKA PEREMPUAN


Haid atau biasa disebut menstruasi merupakan sesuatu yang rutin dialami oleh orang perempuan (muslimah) , dan menjadi tanda-tanda baligh (dewasa). Seorang muslimah apabila sudah baligh maka ia wajib melakukan kewjiban-kewajiban agama, seperti sholat, puasa dan lain sebagainya.

Seringkali kita temukan kaum muslimah yang kebingungan dalam membedakan antara darah haid dan darah istihadloh (darah penyakit). Di sini, kami ingin berbagi pengetahuan dan belajar lebih dalam mengenai haid dan problematika perempuan.

Seorang muslimah yang menginjak usia haid atau sudah mengalami haid wajib mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan haid (wajib 'ain). Sehingga baginya diwajibkan pergi dari rumah untuk mengkaji ilmu tersebut, dan bagi seorang suami diharamkan melarang istrinya apabila ia tidak dapat memberi pelajaran sendiri. Sedangkan bagi suami yang dapat mengajarkannya sendiri, maka ia wajib mengajarkannya. Untuk kaum laki-laki hukumnya fardlu kifayah karena hal ini tidak bersentuhan langsung dengannya. Bagi orang tua wajib mengajarkan hukum-hukum yang berkaitan dengan haid kepada putra-putrinya. Dan bagi mereka yang sudah mengerti jangan segan -segan menyampaikan pengertiannya kepada mereka yang belum mengerti dengan berbagai cara..

A. Pengertian Haid

      Haid secara bahasa artinya mengalir. Darah haid atau menstruasi ialah darah yang keluar dari rahim perempuan pada hari-hari tertentu pada saat badan dalam keadaan sehat dan sudah menjadi kebiasaan, bukan karena sakit atau melahirkan. Haid merupakan proses alamiyah yang dialami oleh setiap perempuan dan tidak dapat direkayasa keberadaannya, sudah menjadi ketetapan Allah khusus untuk kaum perempuan.
      Firman Allah yang menjelaskan tentang haid terdapat dalam QS. Al-Baqarah:222, yang artinya: “ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka itu suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
      Sabda Rosulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhori dijelaskan “ Haid itu adalah sesuatu yang ditakdirkan Allah kepada cucu wanita Adam”.

HAID ( Datang Bulan )

Darah haid adalah darah yang keluar dari farji (alat kelamin ) perempuan yang dalam keadaan sehat, bukan karena melahirkan atau robeknya selaput dara.
Waktu Haid :
Sebagian Ulama berpendapat bahwa haid tidak akan terjadi pada wanita bila usianya belum mencapai 9 tahun. Keluarnya darah haid ini pada umumnya berlangsung setiap bulan sekali sampai wanita itu mengalami monopause. Dalam hal ini tidak ada dalil yang menjelaskan adanya batas umur tertentu bagi terhentinya darah haid. Berikut pandangan empat madzhab tentang masa haid :

THAHARAH

Menurut makna bahasanya thaharah adalah bersih. Sedangkan menurut syara' thaharah adalah sucinya mushali (orang yang mengerjakan shalat ) baik badan, pakaian maupun tempat shalat dari najis, sebagaimana di jelaskan dalam surat Al Maidah ayat 6 :
" Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah dengan kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kakimu dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak mendapatkan air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik, sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur. "